Wednesday, December 28, 2011

Nomor HP Para Penipu Lewat SMS

Selamat Pagi,
Lama tidak menulis lagi di blog ini dikarenakan kesibukan sehari-hari. Hmm, membaca judul di atas rasanya di antara kira sering menerima SMS dari orang tak dikenal yang mencoba mencari keuntungan dari kelengahan kita. Ada yang minta pulsa, minta transfer dana seolah-olah kenal dan ada urusan dengan kita, dan lain sebagainya. Pun dengan saya yang seringkali mendapat SMS tersebut. List yang saya tulis berikut ini merupakan nomor HP yang masuk ke HP saya. Silakan pembaca sekalian menambahkan list-nya dengan mengisi kolom komentar, nanti saya entry.


1. 0877 8087 4623 minta transfer ke Bank Panin a/n Siti Rusmiati No. Rek 2403036783
2. 0878 8097 5196 minta pulsa ke no 0819 3237 3921
3. 0821 8903 9468 minta transfer ke Bank BRI a/n Fajri Hartanto No. Rek 501701004350530
4. 0877 8205 4270 minta transfer ke Bank BRI a/n Beni Anwar No. Rek 093-601047354534
5. 0896 3038 4599 Transfer saja ke BNI a/n INDRI YANTI No. Rek 0245-345-481
6. 0852 8288 6018 Kejutan PROMO Kuku Bima ENERGI Info Hub: PT SM 021-40172346 dan 021-40172347
7. 0822 6078 3049 Hadiah CEK TUNAI dari KukuBima ENER-G Info Hub: PT SM 021-70362741 dan 021-70362742
8. 0853 4054 2418 minta Uangnya dikirim ke Rek BRI a/n ARIFIN JUNAEDI No. Rek 0540-01-005651-50-3
9. 0852 4969 4085 minta tolong uangnya dikirim ke BNI a/n Abdul Rahman No. Rek 024-884-1259
10. 0823 3050 9467 minta dikirim ke Rek MANDIRI a/n SAHRONI WIDODO No. Rek 900-000-550-1722
11. 08539730 8344 minta dikirim uang ke BRI a/n RUSPINA No. Rek 3383-01-029765-537
12. 0853 9404 8278 Hadiah dari TELKOMSEL Rp. 75 juta diundi di RCTI pukul 23.30 Info Hub: 0852 7999 9184 H. Mulyadi MSc
13. 0831 3610 6889 Pa, beliin dulu pulsa simpati ke 0821 9215 2662
14. 0821 9502 7537 Ma, tolong isikan pulsa AS 0853 9653 2092
15. 0812 9886 7942 Hadiah tunai dari KukuBima Ener-G Info Hub PT SM 021-33025621
16. 0823 3283 3961 Minta transfer uang ke Rek Bank Danamon a.n HENDRIK SYAPUTRA No. Rek. 0035-4048-6549
17. 0853 4764 1203 Minta transfer uang ke Rek Bank BNI a.n SILVIA ASTUTI No. Rek. 0255-570796
18. 0853 2999 9430 Minta transfer uang ke Rek Bank BNI a.n BUDIONO No. Rek. 0239-054750
19. 0852 3951 9128 Minta dikirim pulsa simpati ke no 0821 9211 2883
20. 0821 9394 2583 Minta transfer uang ke Rek Bank BRI a.n HENDRO KARTIKO No. Rek. 0997-0100 9548 507
21. 0821 9126 8853 Minta transfer uang ke Rek Bank BNI a.n TONI SYAPUTRA No. Rek. 024-120-9010
22. 0878 0902 4150 Minta dikirim pulsa ke No. 0819 3237 1783
23. 0823 3063 9832 dengan bahasa yang lebih meyakinkan Minta dikirim uang ke Rek BCA 058-056-1586 a/n RAMLI PUTRA
24. 0853 1591 4883 Minta dikirim pulsa ke No. 0812 1033 3046
25. 0823 4952 8950 Mengaku Hj. Ani tertarik dengan rumah/tanah, minta menghubungi suaminya Dr. H. Hendra, SE di nomor 0823 3514 4477
26. 0852 1089 2839 Hadiah Rp. 100 jt dari Promo Simpati TELKOMSEL, minta hubungi ke No. 0823 3333 3466 a.n Ir. Rahmat Saleh
27. 0823 2519 9937 Minta dikirim uang ke rek BNI No. 0267 7341 08 a.n Rini Ekawati
28. 0853 9671 4588, Pah beliin pulsa ke no 0852 9945 9745
29. 0852 1614 0843 Minta transfer uang ke rek BRI No. 5514 0100699 865505 a.n AFRIZAL untuk perpanjang kontrak/sewa di rumahnya
30. 0852 1134 9397 Minta dikirim uang ke Rek BNI No. 0264034664 a.n BAYU RUDUNGGA
31. 0853 9908 5640 mengaku Ibu Nensih tertarik dengan rumah/tanah, minta menghubungi suaminya Dr. H. IRAWAN di nomor 0952 9947 3999
32. 0852 4946 7320 Minta dikirim uang ke Rek BRI No.0922.0100.4271.508 a.n SONI HARSONO
33. 0853 1934 4604 Minta hubungi Pak UJANG di No. 0852 8723 1111 untuk perpanjang kontrak rumah
34. 0823 3152 8648 Minta dikirim uang ke Rek BNI No. 0262-0297-03 a.n FARIDA NASUTION

Harapannya, semoga kita menjadi lebih waspada dan hati-hati dengan aksi tipu-tipu seperti ini.

Read More......

Wednesday, September 14, 2011

Cara Mengenyahkan Nyamuk..Murah Meriah

Musim kemarau (panas) yang saat ini terjadi seperti biasanya diikuti oleh banyaknya NYAMUK di sekitar kita. Rasanya tidak ada rumah yang bebas nyamuk. Hampir tiap hari mengengar obrolan tetangga, "tadi malam ga bisa tidur, banyak nyamuk." Berikut ini adalah tip dari seorang kawan bagaimana mengenyahkan nyamuk di rumah tanpa harus keluar banyak biaya, asal mau sedikit berusaha.


Pernah lihat nyamuk berkumpul diatas kepala saat magrib?....Itu kunci nya......
Menjelang magrib, taruh baskom/ember plastik warna hitam kosong dilantai didalam rumah.......... nyamuk yang aktif menjelang magrib akan datang masuk kerumah karena mencium bau darah manusia didalam rumah.
Nyamuk2 akan berputar diatas baskom kosong tersebut...
Siapkan tutup panci yang ringan ...oles minyak jelantah (lebih kental).... ayunkan pada nyamuk (tak perlu tenaga ayun)....nyamuk akan menempel....ulangi berulang kali ..maka anda bisa tidur lebih nyenyak tanpa gangguan nyamuk pada jam2 berikutnya.

Buka semua pintu kamar tidur tapi pintu keluar ditutup....nyamuk yang tersisa dikamar akan mendekati anda (yang sedang berada diruang tamu nonton TV) karena bau darah manusia.....siapkan piring dengan diolesi minyak jelantah....ayunkan agar nyamuk menempel dipiring......murah meriah.... bebas malaria dan bebas demam berdarah.....lakukan tiap malam agar bisa tidur nyenyak......tak perlu obat semprot.....Ide telah SAYA terapkan sejak lama........

BILA ADA SATU DARI KELUARGA KENA MALARIA....AGAR SISAKIT TIDUR DENGAN KELAMBU UNTUK MENCEGAH PENULARAN PADA ANGGOTA KELUARGA YANG SEHAT.

Sumber: Herliyani Suharta

Read More......

Friday, August 5, 2011

Ten Signs of an Incompetent Leader

Poor leadership surrounds us, it's a fact of life and they seemingly find a way to keep their jobs. They are more focused on their personal
needs and not of the professional needs of those below them. They have
a hard time developing their employees because they lack the proper
management techniques to do so. A leader is someone who you would
follow to a place you would not go alone. Leadership is about action
not status.


However, the question is, how do we know when we are dealing with
these flaw ridden individuals. A lot of the time, a poor manager can
make the perception that he/she is busy and organized. I have
developed a small guideline that can help pinpoint these leaders.

Incompetent Leaders will:

1. Delegate work rather than balance workloads. This allows all
attention to be diverted from them in case of failure. It may seem to
them that are managing their people but in actuality they are
creating work imbalances within the group. It can create unnecessary
overtime for some and under utilization of others. A good manager is
aware of the skill sets of all the people below them and should
allocate work accordingly while trying to enhance the skills of
everyone to be even more productive.

2. Reduce all answers to Yes or No rather than explaining their
reasoning. This is an example of a crisis manager who cannot think
farther than a few hours ahead. A yes/no manager finds it a waste of
time to find the real answer through intellectual thought. They are
already thinking about the next crisis.

3. Not separate personal life from professional life. They will bring
their personal problem to work. Working for these types of managers
can be very dramatic. They are unable to separate their emotional
imbalances while trying to manage people. They are less focused and
will not give you the attention and direction you need for success.

4. Manage crisis. If you are a company that has crisis managers, then
you can say goodbye to innovation and progression. Proactive thinking
is critical to the success of any company. If you are not finding
ways to stop or reduce the amount of crisis that has to be managed,
then your competition will pass you by. Leaders have to think out of
the box and make change.

5. Create an environment where mistakes are unacceptable. Being held
accountable for wrong decisions is a fear for them. Making mistakes
only helps you become a better person, manager, etc. I use the
analogy of a basketball player that has no fouls. If they are not
going for the ball and taking chances with their opponent, then they
are trying hard enough. Take a chance and don't be scared.

6. Humiliate or reprimand an employee within a group. This is a
clear and visible sign of a poor leader. A good leader takes employee
problems away from a group setting to a more private setting. If you
have a boss that does this, it is time for a visit to human
resources.

7. Not stand behind subordinates when they fail. Never leave your
people to hang out to dry. Always back them up, right, wrong, or
indifferent. If an employee tries their best in a situation and they
fail to come through. They should be commended on their effort and
not punished for the failure

8. Encourage hard workers not smart workers. I am not impressed with
hard workers. A hard worker is usually defined by hours. Smart
workers are the ones that I hire and embrace. Smart workers
understand the concept of time management and multi-tasking. Poor
leaders miss this connection. Smart workers are methodical in their
thinking and can generally be successful because of their abilities
management projects and time. Hard workers may take twice as long to
do the work. It is important to assign work accordingly to the skills
and personalities

9. Judge people on hours not performance. This is similar to #8.
Again, I am not impressed with overtime junkies. They have lost all
perspective on a healthy family/balance. Bad managers will promote
the employees that work the most hours and not look at the smart ones
who work less, meaning have better time management. Stop watching the
lock.

10. Act differently in front of their leaders. This is an indication
of low self-confidence. They have doubts about their own ability to
lead and they will act like little children when authority is
present. A confident person acts the same around everyone. Remember,
have respect for them, but also have self-respect.

By Chris Ortiz
Sumber: Milis bursaide-BPPT

Read More......

Kompetensi Kepemimpinan (Leadership Competencies)

Berikut beberapa ciri Kompetensi Kepemimpinan/Leadership, muda2an bermanfaat

a.DIRECTION COMPETENCIES
Vision - The capacity to create and project beneficial and stimulating images that can inspire direction.
Focus - The ability to set a direction, maintain that direction, and make corrections when necessary. Goal oriented
Strategic Thinking - The ability to do "what if" thinking in imagining and creating paths to future goals.
Concept - The need to explain the events in one's life parsimoniously, to have the best explanation for the most events.


b.DRIVE TO EXECUTE COMPETENCIES
Ego Drive - The striving to define oneself as a significant person.
Competition - The desire to win.
Achiever - The internal drive to be up and doing, to be working, to be getting things done, energetic.
Activator - The drive to make things happen, to be proactive.
c.RELATIONSHIP COMPETENCIES
Developer - The drive to help others grow and the capacity for taking satisfaction from each increment of growth of the people with whom they work.
Team - The capacity to get people to help each other use their strengths to achieve their goals.
Stimulator - The drive to create good feelings in other people.
Multi-Relator - The tendency for extending relationships to a wide circle to a wide circle of acquaintances.
Responsibility/Ethics - The capacity to take psychological ownership for one's own behavior.
d.MANAGEMENT COMPETENCIES
Arranger - The ability to coordinate people and their activities so that work gets done efficiently.
Performance Orientation - The attitude of being results oriented. The need to measure achievement.
Discipline - The need to structure time and environment.

Sumber: milis bursaide-BPPT

Read More......

Kompetensi Profesional

Berikut beberapa ciri Kompetensi Profesional, mudah2an bermanfaat

a.Kompetensi pengetahuan: “memiliki pengetahuan teknik dan/atau bisnis/perniagaan yang sesuai serta dapat menerapkannya secara praktis”.

b.Kompetensi pengenalan dan pemahaman masalah: “memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, menggunakan keterampilan berpikir yang tinggi baik masalah teknis maupun bisnis/perniagaan, secara efektif untuk memperoleh hasil tertentu.


c.Kompetensi bisnis/perniagaan: “memiliki kemampuan untuk memahami bisnis/perniagaan dalam arti luas, di mana dia berkecimpung mempraktekkan dan mengelola keinginan-keinginan pengguna secara pro aktif.

d.Kompetensi Etika dan/atau tingkah-laku pribadi, di mana ini merupakan inti dari ketiga komponen lainnya, didefinisikan sebagai “memiliki tingkah-laku dan nilai-nilai professional yang sesuai serta kemampuan membuat keputusan yang tepat ketika dihadapkan pada dilemma etika dalam masalah keprofesian.

Read More......

Tuesday, May 3, 2011

Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses


Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma

Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
“Ini telah kulakukan!”
segalanya ini memberikan makna seorang insan

Den Alfange
(Perancis)

Read More......

Tuesday, April 26, 2011

Etos Pendongkrak Gairah Kerja! (Jangan Cuma "5-Ng")

Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh "5-ng": ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.

Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya!


Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot. "Itu lumrah," kata Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, "impotensi" kerja harus diobati.

Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai "Delapan Etos Kerja Profesional". Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.

Memahat yang tak terlihat

Etos pertama: kerja adalah rahmat.
Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.

Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.

Etos kedua: kerja adalah amanah.
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.

Etos ketiga: kerja adaah panggilan.
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, "I'm doing my best!" Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.

Etos keempat: kerja adalah aktualisasi.
Apa pun pekerjaan kita, eutah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa "ada". Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa pekenjaan.

Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja, misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa pede ketika berjumpa koleganya. "Perkenalkan, nama saya Miftah, dari Bank Kemilau." Keren `kan?

Etos kelima: kerja itu ibadah.
Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata. Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti ini:

Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang. Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia menjawab, "Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi Tuhan bisa melihatnya." Motivasi kerjanya telah berubah menjadi motivasi transendental.

Warisan tak ternilai

Etos keenam: kerja adalah seni.
Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun, semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi. Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.

"Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di laboratorium yang sepi," katanya. Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.

Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita.

Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.

Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Bagi kebanyakan orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km! Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.

Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras yang giat membela kepentingan orang-orang yang teraniaya.

"Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik," kata Jansen. Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut
dengan istilah rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).

Pilih cinta atau kecewa

Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di semua pekerjaan.
"Asalkan pekerjaan yang halal," katanya. "Umumnya, orang bekerja itu `kan hanya untuk nyari gaji. Padahal pekerjaan itu punya banyak sisi," katanya.

Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 - 40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan
Tuhan. "Manusia itu makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu `kan waktu yang sangat lama," tambahnya.

Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan. Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya dengan benar. "Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala kekurangannya," kata sarjana Fisika ITB yang lebih suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.

Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh "5-ng": ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, "It's not doing the thing we like, but liking the thing we have to do that makes life happy."

"Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu duri," ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos ini.

Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan.

Bukan gila kerja

Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik. Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas. Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa pekerja keras dan ulet. Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.

Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah memujinya jika ia menunjukkan prestasi.Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras, toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada dasarnya manusia menyukai reward.

Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus. Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu karyawan pun yang bakal terkena PHK.
Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja keras. Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk menjual. Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan terkuat di Jepang.
Sumber: milis Bursaide dari milis tetangga

Read More......